Restorasidaily | Pematangsiantar, Sumatera Utara
Meskipun terdapat tekanan inflasi pasca-HBKN ldul Fitri yang dipengaruhi oleh dinamika harga sejumlah komoditas pangan dan barang konsumsi serta sejumlah komoditas hortikultura, dua kota pantauan IHK, yakni Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Labuhanbatu, tetap mampu menjaga stabilitas harga pada beberapa komoditas bapokting setelah sebelumnya mencatatkan deflasi pada Maret lalu.
Perkembangan inflasi di wilayah kerja periode April 2026, disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Pematangsiantar, dihadapan media Rabu (06/05/2026).
Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Pematangsiantar Ahmadi Rahman Didampingi Deputi Rizky Reflizar di Lantai IV KPw BI, Jalan Adam Malik Pematangsiantar.
Ahmadi menjelaskan pencapaian ini merupakan hasil dari sinergi intensif Tim Pengendali lnflasi Daerah (TPID) dalam mengawal kecukupan pasokan guna memastikan stabilitas harga tetap terukur di tengah ketidakpastian pasar internasional maupun domestik.
Inflasi yang terjadi di kedua wilayah tersebut, kata Ahmadi, terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak goreng akibat menipisnya stok serta kenaikan bahan material plastik sebagai bahan kemasan dari minyak goreng tersebut serta beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah dan tomat.
Di Kota Pematangsiantar, komoditas yang memberikan andii inflasi terbesar adalah minyak goreng sebesar 0,09%, bawang merah sebesar 0,05% dan tomat sebesar 0,05%. Sementara itu, komoditas yang masih memberikan andil deflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan dan cabai merah. (Dharma)





