Restorasidaily | Pematangsianțar, Sumatera Utara
Seorang siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan Tri Darma, Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara, diduga menjadi korban perundungan atau bullying.
Dugaan bullying ini terungkap setelah seorang siswi, TNS, mengaku mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari seorang guru mata pelajaran Matematika, Woni. TNS tidak diizinkan mengikuti pelajaran matematika selama satu semester oleh Woni yang bersikap arogan, menuduh tulisan jawaban di kertas ujian miliknya sebagai tulisan tidak senonoh (kotor).
“permasalan awalnya itu, kan ujian pak. Jadi saya fokus mengerjakan pilihan berganda, belum mengerjakan essaynya. Trus saya isilah jawaban soal tentang contoh fungsi dan relasi gitu kan pak. Jadi saya tulis”Pepet”, saya anggap itu bukan kata kotor. Tapi Bu Woni itu menganggap itu tulisan cakap kotor. Trus ibu berpikiran bilang, kamu cakap kotor jangan masuk pelajaran matematika selama satu semester. Saya langsung minta maaf tapi ibu itu tetap ngotot larang saya masuk pelajaran matematika. Besoknya saya datangi lagi ibu itu minta maaf, mohon-mohon tetap gak diterima”, ucap TNS saat diwawancarai, Jumat (2/10/2026).
TNS merupakan anak yatim, juga mengaku telah menyampaikan permasalahan tersebut kepada Wali Kelasnya, Nurain Pane. Namun, dirinya tidak memperoleh tindak penyelesaian dari Nurain Pane hingga membuat dirinya takut datang ke sekolah selama beberapa hari.
“sudah juga pak, sudah saya temui Ibu Wali Kelas, Bu Ain. Tapi gak ada solusi yang diberikan. Saya trus dicap nakal dan serasa gak nyaman lagi masuk sekolah pak. Saya bilang ke Mama saya, apa yang saya alami. Ayah saya sudah tiada pak, jadi gimanalah ini ya pak”, ungkapnya dengan suara sedih.
Menyikapi permasalahan bullying yang diterima TNS dari oknum guru Woni tersebut, Kepala SMK Swasta Kesehatan Tri Darma, Indra Saragih, coba dikonfirmasi. Awalnya, Indra Saragih tidak mengakui dirinya sebagai Kepala SMK Tri Darma lalu memutuskan panggilan telepon seluler.
“maaf saya bukan Kepala SMK Tri Darma. Anda salah orang”, kata Indra Saragih dengan sombongnya.
Setelah dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Indra Saragih meminta agar diberikan waktu untuk berkomunikasi dengan semua pihak.
“baik, terima kasih atas informasi pak. Berikan kami waktu beberapa waktu untuk berkomunikasi kepada semua pihak”, sebutnya.
Sementara, Wali Kelas SMK Tri Darma, Nurain Pane, saat dihubungi mengatakan bahwa perlakuan bullying yang dialami TNS merupakan masalah internal, tidak berhak siapapun ikut campur.
“saya rasa ini hanya masalah internal sekolah kami. Kan bukan saya yang lakuin, kenapa bapak tanya-tanya saya. Siapa bilang saya gak ada reaksi, bapak jangan kayak gitu”, ujarnya sambil memutuskan sambungan telepon seluler.
Bullying atau perundungan yang dilakukan oleh guru matematika, Moni, kepada TNS adalah bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang berdampak buruk bagi mental, kesehatan, dan semangat belajar anak. Juga dapat menimbulkan rasa cemas, stres berat, hilang rasa percaya diri, hingga depresi.
Jika tindakan bullying ini dibiarkan, tidak tertutup kemungkinan TNS akan mengalami stres berkepanjangan dapat memicu keluhan fisik seperti penurunan imun tubuh dan sakit somatis.(Silok)






