Restorasidaily | Pematangsianțar, Sumatera Utara
Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kesehatan Swasta Tri Sakti/Tri Darma Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara, Indra Saragih, mengaku tidak mengetahui dugaan bullying atau perundungan yang dialami seorang siswi yatim berinisial TNS.
Sementara, oknum guru matematika, Woni, mengaku telah bertindak salah hingga tidak mengizinkan TNS mengikuti pelajaran matematika, bahkan diduga memaksa masuk ke kelas lain untuk mengikuti pelajaran agama. Mirisnya lagi, tindakan semena-mena Woni itu diketahui seorang guru Bimbingan dan Konseling (BK) dan guru Wali Kelas, namun tidak melaporkannya kepada pimpinan sekolah tersebut.
Hal itu diketahui saat diadakan pertemuan antara pihak sekolah dengan orang tua/wali siswi TNS, Senin (6/10/2026) sekira jam 10.30 WIB.
“saya tidak tahu. Saya tidak diberitahu mereka (guru-guru). Kami tidak terima atas pemberitaan bullying ini. Guru itu yang melakukannya, ya guru aja yang diberitakan, kenapa sekolah dilibat-libatkan. Iya benar, sewaktu bapak hubungi saya, saya akui bukan kepala sekolah. Saya kan tidak kenal bapak”, ucap Kepala SMK Kesehatan Swasta Tri Sakti/Tri Darma, Indra Saragih kepada wartawan Restorasidaily.com yang juga hadir di pertemuan tersebut.
Oknum guru matematika a/n Woni, awalnya mengaku melakukan tindakan salah kepada siswi TNS, namun tidak mengakui agar TNS tidak mengikuti pelajaran matematika selama satu semester.
“iya saya akui salah. Tapi maksudnya saya bukan tidak boleh ikut pelajaran matematika selama satu semester”, kata Woni.
Setelah ditanya tentang kejujuran dirinya saat bersikap semena-mena dan tidak menerima permintaan maaf dari TNS, Woni akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta TNS untuk tidak mengikuti pelajaran matematika lalu diduga melakukan pemaksaan untuk masuk ke ruang kelas lain yang sedang melaksanakan pelajaran agama.
“iya pak. Saya minta siswi TNS itu tidak masuk ke kelas saat pelajaran saya (matematika). Saya suruh dia ikut pelajaran agama di kelas lain. Itu juga diketahui guru BK dan Wali Kelasnya”, ungkap Woni.
Pertemuan yang berlangsung dengan suasana tegang, itu tidak menghasilkan penyelesaian yang baik bagi pihak keluarga/orang tua TNS. Mereka menganggap, Kepala SMK Tri Darma, Indra Saragih, beserta oknum lainnya yang ikut dalam pertemuan, lebih memihak kepada oknum guru matematika tersebut.
“anak kami sudah bolak-balik minta maaf jika dianggap salah. Tapi apa sikap kalian, sikap Bu Woni, tetap memberikan sanksi tidak diizinkan mengikuti pelajaran matematika selama satu semester seperti yang ibu ucapkan. Bahkan saya juga sudah berkomunikasi dengan Bu BK, tapi tidak kunjung ada tindakan panangan secara baik. Saya gak terima tindakan ini”, sebut ES, ibu kandung TNS.
Akibat bullying yang dialami, siswi yatim TNS mengalami trauma, berdiam diri di dalam kamar, serta tidak.mau lagi bersekolah di SMK Kesehatan Swasta Tri Sakti/Tri Darma.(Silok)






